Beranda > Berita Pajak > Keliru Pajak Progresif Dongkrak Ekspor Mobil Nasional

Keliru Pajak Progresif Dongkrak Ekspor Mobil Nasional

Di mata pemerintah, penerapan pajak progresif yang dilaksanakan tahun depan dengan tujuan mengurangi kemacetan, bakal memberi dua keuntungan. Yakni, terjadinya pemerataan dan mendongkrak kinerja ekspor industri otomotif nasional.

“Mobil akan lebih banyak ke daerah dan ekspor juga lebih meningkat lagi. Orang akan berfikir buat apa punya mobil banyak, lebih baik dijual murah,” ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady, belum lama ini.

Tapi, khusus urusan ekspor langsung dibantah oleh pelaku industri otomotif. Direktur Utama PT Indomobil Sukses International Tbk Gunadi Sindhuwinata memberi beberapa alasan kepada Kompas.com, Senin (28/9) kalau “senjata pemerintah” tersebut tidak seperti yang perkirakan.

“Mana mungkin mendorong (ekspor), ekspor baru bisa dilakukan ketika skala ekonomi baik dengan home base (basis produksi), daya beli baik, dan volume tinggi. Ekspor itu hanya bonus,” ujar Gunadi.

Pasar mobil nasional yang sekitar 600.000 unit per tahun masih kerdil jika dibandingkan jumlah populasi penduduk Indonesia yang sudah di atas 200 juta jiwa. Terlebih dibandingkan negara lain seperti Jepang, China, India, bahkan Thailand yang memiliki pasar di atas Indonesia, padahal jumlah populasi lebih sedikit.

“Dari perhitungan matematis, ini memalukan dan memilukan. Sesungguhnya kita mau ada konsentrasi khusus (dari pemerintah) pengembangan infrastruktur yang baik. Penghematan tak akan terjadi kalau transportasi kita mahal. Dampaknya, masyarakat yang tak punya mobil juga suffer (menderita) karena infrastruktur tak berkembang, sehingga jadi mahal semua,” jelas Gunadi.

Gunadi yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perindustrian, Riset dan Teknologi melanjutkan, pemerintah diharapkan tak menjadikan otomotif sebagai basis pemasukan pajak yang terlalu gemuk. Sebagai salah satu komponen utama motor penggerak perekonomian nasional, tetap harus memposisikannya secara proporsional.

Tahun depan, meski situasi makro ekonomi nasional terus menunjukan ke arah perbaikan, bukan jaminan pasar otomotif nasional akan membaik. Terlebih dengan keputusan amandemen Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) telah disahkan DPR. Salah satu paket perpajakan yang mengena ke sektor otomotif adalah biaya balik nama (BBN) yang naik dari 10 ke 20 persen.

Selain itu, pajak kendaraan bermotor (PKB) yang akan diterapkan secara progresif. Bagi kendaraan pertama dikenakan pajak 0-2 persen. Selanjutnya, kendaraan kedua dan ketiga akan dikenakan pajak 2-10 persen. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor pun berlaku serupa (progresif).

Belum lagi, peningkatan titik maksimal pajak penambahan nilai barang mewah (PPnBM), dari 75 persen ke 200 persen yang juga telah diputuskan pemerintah.

“Hari ini tol saja sudah naik lagi. Kontradiktif kan, kita mau tumbuh bagaimana, kompetitif bagaimana caranya, investor tertarik dari mana, iklim investasi akan berdampak, itu pasti,” tukas Gunadi.

Ucapan Gunadi bukan sekedar emosi belaka. Contoh kongkret, Kawasaki Jepang telah memindahkan basis produksinya ke Thailand beberapa waktu lalu. Negeri Gajah Putih dipilih prinsipal meski kondisi politiknya belum kondusif. Kelebihan yang dimiliki, iklim investasi yang jauh lebih menjanjikan ketimbang Indonesia.

Menanggapi komentar ini, Edy Putra Irawady menambahkan, selaku lingkup kewenangannya, pemerintah pusat hanya menyerap pemasukan dari PPnBM. Sementara pemasukan lain seperti, BBN dan penerapan pajak progresif seluruh implementasi diserahkan ke pemerintah daerah.

“Kalau (pemerintah) pusat sudah membantu dari hulu untuk menjaga proses produksi tetap baik, melalui insentif seperti BM-DTP (bea masuk ditanggung pemerintah), PPh-DTP (pajak penghasilan), dan lainnya. Kalau di hilir problemnya itu bea balik nama, PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) yang semua di (pemerintah) daerah,” papar Edy. sumber : kompas.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: